MAKALAH Sistem Informasi Petani
Nama : Ahmad Farid
Kelas : 2KA28
NPM : 10115325
Universitas
Gunadarma
2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat
tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih
atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat
memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami
yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.
Jakarta
, 13 November
Penyusun
DAFTAR ISI :
KATAPENGANTAR........................................................................................ii
DAFTAR
ISI......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................4
1. LATAR
BELAKANG........................................................................................................4
2.TUJUAN...........................................................................................................5
BAB II
PEMBAHASAN...............................................................................................6-9
BAB III KESIMPULAN.....................................................................................................
REFERENSI........................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara dengan potensi yang luar biasa.
Luar lahan yang membentang dari Papua hingga Aceh dengan
berbagai potensi pertanian yang baik. Persentase sumbangan sektor pertanian terhadap
PDB memiliki kecenderungan meningkat
pada periode tahun 2005-2008. Di tahun 2008, persentase tersebut mencapai 14,68 persen, dengan total PDB sebesar
345.302,8 (angka sangat sangat sementara).
PDB sektor pertanian pada tahun 2007 adalah sebesar 547.235,6 milyar rupiah, dengan persentase 13,83 persen dibandingkan
2 sektor lainnya. Angka PDB tersebut
mengalami peningkatan sebesar 26,31 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada subsektor peternakan persentase
sumbangan terhadap PDB mengalami fluktuasi hingga
tahun 2008. Pada tahun 2008, kontribusi subsektor peternakan terhadap PDB adalah 1,57 persen, dengan PDB sebesar
37.010,7 milyar rupiah (BPS 2008).
Diluar potensi yang ada, pertanian masih
memiliki masalah yang berlarut-larut dan sulit untuk diselesaikan. Kemiskinan
diperkirakan berasal dari sektor pertanian yang mampu menyerap tenaga kerja yang mencapai 50
juta penduduk Indonesia (BPS,2011). Kemiskinan diindikasikan berasal dari
sektor pertanian terlihat dari kontribusi
kemiskinan di pedesaan yang mencapai 63,5 persen dan mata pencarian dipedesaan
merupakan pertanian. Harga murah saat panen, harga pupuk yang meningkat cepat
pada masa pemupukan, cuaca yang tidak diprediksi petani, hingga risiko yang tinggi menjadi salah satu masalah
yang dihadapi oleh petani. Salah satu contoh yang adalah informasi mengenai
ketersediaan beras nasional. Kesimpangsiuran informasi menyebabkan pemerintah
tetap melakukan impor yang tentunya sangat merugikan petani. Oleh karena itu,
butuhkan sistem yang tepat dan kebijakan
yang mendukung pertanian Indonesia.
2.
TUJUAN PENULISAN
A. Supaya kualitas pertanian
semakin meningkat
B. Supaya kebutuhan informasi terkait dengan
pertanian dapat diakses dengan cepat
BAB II
PEMBAHASAN
Petani
adalah tulang punggung pangan di Indonesia, tetapi saat ini mereka dituntut
untuk meningkatkan kualitas hasil pertaniannya supaya bisa bersaing dengan
produk pertanian import. Disisi lain, hasil produksi petani tergantung sekali
dengan lokasi yang berhubungan dengan cuaca, kondisi tanah, dan kondisi alam
lainnya. Mereka sangat membutuhkan
informasi pertanian yang terbaru, tetapi kendala yang muncul adalah tenaga
penyuluh pertanian umumnya punya keterbatasan, antara lain banyak yang tidak
mengenal lokasi dan petunjuk pertaniannya-pun juga merujuk ke aturan baku
pertanian tanpa melihat muatan lokal. Kendala lainnya yang berhubungan dengan
penyampaian informasi adalah petani umumnya berpendidikan rendah-menengah,
kadang-kadang masih ada yang buta huruf, dan masih gagap dengan teknologi
terkini.
Dengan kondisi Indonesia sebagai negara agraris dan
negara maritim.Produktivitas sektor pertanian memberi kontribusi yang
signifikan terhadap perekonomian nasional, yaitu sekitar 13,3% dari PDB Q-IV
2013 atau merupakan penyumbang ketiga terbesar PDB (BPS, 2013). Sementara itu
data BPS juga menunjukkan bahwa sektor ini menyerap tenaga kerja terbesar,
yaitu berkisar 35% dari total tenaga kerja. Namun demikian, petani memiliki
tingkat kesejahteraan yang rendah. Hal ini ditunjukkan dari data jumlah
penduduk miskin dengan kategori bekerja mayoritas adalah petani sebesar 52,8%
(BPS, 2013).
Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, salah
satunya adalah dalam sektor pertanian terdapat kebutuhan informasi yang terkini
dan tidak dapat diakses dengan cepat. Adanya assymetric information ini
mengakibatkan bargaining position petani dan nelayan tersebut menjadi lemah.
Oleh karena itu, dalam rangka mengatasi permasalahan ini perlu dilakukan
penyediaan sistem informasi bagi petani dan nelayan, yaitu harga bahan input
seperti harga pupuk, benih, obat hama, informasi pendukung, seperti cuaca dan
cara bercocok tanam/distribusi, serta harga jual produk. Penyediaan Sistem
Informasi Bagi Petani (SIP) atau Mobile Agriculture harus bersifat simple,
user friendly dan dengan biaya yang terjangkau. Salah satu model
diseminasi informasi tersebut melalui telepon genggam. Hal ini mengingat cukup
tingginya pengguna telepon genggam di Indonesia.
solusi
yang bisa ditawarkan adalah membangun sistem informasi petani (SIP) dengan
muatan lokal, sehingga dalam hal ini diperlukan peran-serta petani sendiri
untuk memberikan pengalaman pertaniannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan
adalah membangun sebuah template website berbasiskan Content Management
System (CMS) atau Wiki atau Blog dimana nantinya bisa di-install dan
dijalankan secara offline di beberapa lokasi (Desa atau Balai Penyuluhan) yang
kebanyakan masih belum terjangkau internet, dengan memasang server internet
desktop. Untuk lokasi-lokasi yang bisa dijangkau internet (walupun dengan akses
dial-up) maka perlu dilengkapi sebuah aplikasi di dalam template website yang
bisa mengupdate database dan file pendukung ke sebuah SIP Center secara
otomatis (dalam kondisi online). Sebenarnya cukup dengan 3 menu utama yaitu Informasi
Umum, Produk/komoditi, dan Pasar.
Informasi umum bisa berisi tentang lokasi (desa,kecamatan,kab), penduduk,
kelompok tani, potensi pertanian di daerah itu, peta lokasi dsb). Menu
Produk/komoditi yang perlu diutamakan disini karena disinilah roh dari SIP ini.
Produk pertanian jumlahnya banyak dimana masing-masing produk mempunyai
petunjuk teknis, permodalan/cash flow, mungkin ada sukses story. Semua
informasi produk ini juga harus punya struktur yang rapi, misalnya setiap
produk/komoditi cukup dengan petunjuk teknis pertanian dengan tahapan yang
jelas, termasuk biaya yang dibutuhkan dan prakiraan hasil panen. Informasi
pasar, juga bisa diupdate dengan cara pengiriman SMS.
Pelatihan Admin dari petani lokal (yang lebih terpelajar), perlu dilakukan
untuk memelihara, mengupdate isi website dengan muatan lokal, dan dilatih juga
untuk menggerakan/melatih petani lain untuk menggunakan website SIP. Sistem
Informasi Pertanian Indonesia merupakan salah satu pemikiran didalam pemerataan
informasi. Sistem Informasi Pertanian merupakan kerja bersama antara Kementrian
Pertanian dengan Kementrian Informasi dan Komunikasi, maupun kelembagaan
lainnya. Fungsinya adalah penyeberan informasi harga sehingga tidak
dipermainkan tengkulak, informasi akan harga input produksi berikut lokasi
dimana dapat diperolehnya, hingga informasi kondisi iklim maupun cuaca yang
fungsinya adalah memprediksi waktu tanam yang tepat.
Sistem Informasi Pertanian diawali dengan pembangunan workgroup melalui jalinan
disetiap desa penghasil produk pertanian. Work grup tersebut meliputi
komputer-komputer yang terpasang disetiap desa melalui gapoktan dan tersambung
dengan administrator yang berlokasi ditinggatan yang lebih tinggi seperti
Kabupaten. Informasi yang ada disesuaikan dengan kebutuhan yang informasinya
diperoleh dari kelembaggan terkait.
Setiap elemen Sistem informasi bisnis yang terdiri dari orang, prosedur, data,
software-program, dan hardware-komputer harus terpenuhi. Elemen pertama yaitu
orang merupakan sumberdaya yang penting. User harus memiliki kemampuan
pengoperasian komputer dasar bagi yang berada di masing-masing desa. Informasi
yang diberoleh oleh user ditingkat desa selanjutnya menginformasikan kepada
seluruh masyarakat pertaninnya melalui pesan singkat (sms) atau melalui media
komunikasi lainnya. User ditinggkat Kabupaten maupun Pusat merupakan
administrator yang bertanggung jawab dan berbentuk kelembagaan bertanggung
jawab didalam penyebaran informasi.
Prosedur yang merupakan elemen kedua memberikan SOP yang jelas didalam
penyebaran informasi. Prosedur harus mampu bersifat dua arah dimana user di
desa melalui jaringan workgroup melaporkan kondisi aktual dimasing-masing desa
mengenai keadaan pertanian ataupun sosial masyarakatnya. Administrator
ditingkat Kabupaten mengolah informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dan
bertanggung jawab didalam penyampaian informasi yang benar dan sesuia dengn
kebutuhan.
Data merupakan elemen ketiga didalam sistem informasi bisnis.Data merupakan
informasi yang berharga yang bersumber dari kondisi aktual dilapangan yang
dilaporkan user ditingkat desa ataupun informasi dari kelembagaan terkait.
Informasi yang penting untuk diinfokan seperti kondisi pasar beserta harga
komoditas dari Kementrian Perdagangan, informasi teknis budidaya, penyediaan
input,pengolahan pasca panen dari Kementrian Pertanian, informasi kondisi iklim
atau cuaca yang dapat dimanfaatkan pada pemilihan waktu tanam dari BMKG. Data
tersebut harus diolah dan disesuaikan dengan kondisi yang terjadi dan kebutuhan
yang ada.
Software – Program yang merupakan elemen keempat Sistem Informasi Bisnis
menggunakan software yang mudah digunakan. Program jaringan berupa portal yang
menginformasikan secara lengkap. Administrator harus mampu mengolah dan
mengaplikasikan sotware tersebut dengan baik. Portal yang dibuat harus bersifat
dua arah sehingga dapat saling berbagi informasi baik dari user di desa maupun
administrator.
Hardware – Komputer yang digunakan merupakan inventaris yang dimiliki
pemerintah melalui Kementrian Komunikasi dan Informasi. Kementrian Informasi
pun bertanggung jawab didalam perawatan. Komputer merupakan elemen ke lima dan
sangat penting didalam proses Sistem Informasi Pertanian Indonesia. Kedudukan
Komputer tersebut di desa bisa ditempatkan di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)
atau Kantor Kepala Desa dengan Kriteria mudah diakses oleh seluruh masyarakat
namun digunakan secara bertanggung jawab. Seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya petani dan
pelaku pertanian serta kemajuan tekonologi informasi dan komunikasi serta
pertimbangan efektivitas dan efisiensi penyebarluasan informasi, salah satu
solusi yang ditawarkan dalam rangka mengatasi persoalan transfer teknologi dan
pengetahuan pertanian adalah pemanfaatanteknologi informasi yang untuk
penyuluhan pertanian dikenal dengan sebutan “cyber extension” yang
merupakan penggunaan jaringan on-line, computer dan digital interactive
multimedia untuk memfasilitasi diseminasi teknologi pertanian. Model ini
dipandang sangat strategis karena mampu meningkatkan akses informasi bagi
petani, petugas penyuluh, peneliti baik di lembaga penelitian maupun di
universitas serta para manajer penyuluhan. Selain menggunakan “cyber
extension” penyuluhan pertanian saat ini juga menggunakan multiple
information system bagi masyarakat pedesaan untuk mendukung usaha dan
bisnis pertanian serta perbaikan ekonomi rumah tangga masyarakat pedesaan. yan
digunakan seperti Multiple communication systemtelephone, wireless
information system, off-talk communication, FAX, CATV, personal computer communication,
video tex, satellite communication system, internet (EI-net), television
telephone system. Dengan adanya teknologi yang digunakan dalam penyuluhan
pertanian diharapkan dapat meningkatkan layanan penyuluhan pada aktivitas
petani dalam menyediakan inovasi pertanian yangsemakin advance dan membantu
petugas penyuluhan pertanian dalam memainkan peran yang mengkoordinasi unsur
pertanian di daerah agar dapat menjalin kerjasama denganpihak-pihak atau
otoritas terkait.
Satu hal vital terkait dengan penyuluhan yang juga perlu mendapatkan fokus
perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah dalam memberikan layanan
penyuluhan adalah menumbuhkan dan membangun kolaborasi antara lembaga
pemerintah (penyuluhan dan penelitian), pihak swasta dan universitas agar
penyuluhan pertanian di Indonesia dapat berkembang dengan baik dan petani dapat
merasakan manfaat dari kegiatan penyuluhan pertanian.
BAB
III
KESIMPULAN
Sistem Informasi Pertanian Indonesia harus mampu memberikan
pemerataan informasi diseluruh masyarakat terutama yang berhubungan dengan
pertanian. Petani harus mampu melaporkan kondisi rill dilapangan seperti
masalah pertanian hingga besaran panen yang selanjutnya menjadi data pemerintah
dan penunjang didalam pengambilan keputusan. Informasi yang ada harus mampu
memutus rantai masalah-masalah yang ada seperti penguasaan informasi pasar oleh
pengumpul yang pada akhirnya penentuan harga bisa menjadi lebih adil. Informasi
yang ada harus mampu menunjang kegiatan pertanian seperti waktu tanam yang
tepat sesuai kondisi iklim dan cuaca.
REFERENSI
1.
https://id.wikipedia.org/wiki/Petani
2.
https://id.wikipedia.org/wiki/CyberExtension